customer support
 
admin
admin

PIN BB : 25B81BC0

Call/SMS/Whatsapp :

081284081999

 
 
 
www.facebook.com/gallerybatikindonesia
 
 
jajak pendapat
Pertanyaan Pooling
Jawaban 1
Jawaban 2
Jawaban 3
Jawaban 4

LIHAT HASIL
 

pusat batik

 
 


USER ONLINE : 2
TOTAL VISITOR : 542391
 
 
 
 

Event  |  Article  | 
 

MUNCULNYA BATIK KERATON

Penulis :Galery Batik Indonesia
 

Munculnya Batik Keraton

Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna. Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanananannya memunculkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motik abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Kerajinan Batik ini, di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke XX. Dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.

 

Sejarah Motif Batik Keraton

Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris. Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik di keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta.

Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan atara pola batik Keraton Kasultanan Yogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman yakni Pola Candi Baruna yang terkenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal antara lain Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barang Bintang Leider dan sebagainya.

 

Galery Batik Indonesia

 

sumber :

http://batikday.com/2012/10/munculnya-batik-keraton/

 

PROMOSIKAN HALAMAN INI
Bookmark and Share

Article
Membedakan Batik Tulis Asli dan Palsu
5 Alasan Mengapa Anda Harus Memiliki Batik
Batik Indonesia Di Pakai Artis Hollywood
Miss Universe 2014 Ternyata Senang Membatik Loh
Keunikan Pembuatan Batik Siduarjo
BATIK JUMPUTAN
TREND BATIK DI TAHUN 2015
CARA PINTAR BELANJA BATIK SECARA ONLINE
BATIK PRINTING
BATIK SMOKE
Selanjutnya Akhir
 
 
 
 
keranjang belanja
SHOPPING CART KOSONG
 
login
 
EMAIL
PASSWORD
 

 

Jumlah Member : 29
10 Member Terakhir :
EWQJQIOPQDM, AFIEF, YULI, INSAN, RONALD, RATIH, ANYA, NISA, BPUTXMCUBKOHS, KIKUCPUXQKTZCQKWLAW,
 
 
 
gallery
 
berita
 
berita
Batik Indonesia Di Pakai Artis Hollywood

Batik Indonesia Di Pakai Artis Hollywood juga ternyata kawan kawan, tidak percaya ? mari baca artikel berikut ini.


BATIK JUMPUTAN

Batik Jumputan merupakan seni budaya membatik yang modern. Sesuai perkembangan zaman proses membatik semakin beragam. Salah satunya batik jumputan. Dengan proses pelintiran dan pencelupan di setiap motif yang diinginkan. Dan proses itu dilakukan secara manual dan hasil setiap motif tidak akan sama satu dengan lainnya. Biasanya batik jumputan motifnya abstrak. Batik jumputan bisa menjadi alternatif padu padan untuk motif batik lainnya.


TREND BATIK DI TAHUN 2015

Seni budaya batik selalu menarik untuk dieksplorasi sehingga menghasilkan karya seni budaya bernilai tinggi. Dengan beragam motif dan paduan antara tradisional dan modern maka untuk sekarang ini batik tetap menjadi trend fashion. Bahkan banyak jenis pakaian seperti pakaian santai, kerja bahkan gaun selalu menarik jika ada percampuran nuansa batik. Oleh sebab itu Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia-APPMI DIY yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY mengelola batik local DIY agar bisa menjadi trend di tahun 2015. Dan tidak sedikit para designer yang akan mengembangkan dan memperkenalkan batik ke seluruh dunia. Dengan teknik cutting yang simpel dan modern para desainer APPMI DIY menjadikan batik lokal DIY sebagai karya seni bernilai tinggi.


testimonial
[, ]
 
 
Baca Semua Testimonial
 
 
 
 
Web www.galerybatikindonesia.com
 
www.galerybatikindonesia.com
Jl. Puri Sakti 1 No 6A, Kemang Selatan
CS : 081284081999
gallerybatikindonesia@yahoo.co.id